Di Lingkungan Santo Patrick, masa pergantian pengurus lingkungan semakin dekat. Namun, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, mencari orang yang bersedia menjadi pengurus baru bukanlah perkara mudah.
Pak Tangguh, ketua lingkungan yang sudah tiga periode memegang jabatan, berdiri di depan mimbar kecil aula gereja. Suaranya sedikit serak, tapi ia tetap berusaha terdengar tegas. "Bapak, Ibu, Saudara-saudari, sudah saatnya kita mencari penerus. Saya yakin di antara kita ada yang mau berkomitmen."
Hening. Beberapa orang pura-pura memeriksa ponsel. Yang lain berpaling ke arah jendela. Di pojok aula, sekelompok anak muda sibuk bercanda kecil, tidak peduli dengan suasana pertemuan.
"Nanti saja, Pak. Kami sibuk kerja," gumam Pak Anton sambil tersenyum tipis. "Biar yang muda saja. Mereka lebih energik."
Namun, saat pandangan Pak Tangguh beralih kepada Dimas, salah satu pemuda aktif di seksi kepemudaan, Dimas menggeleng cepat. "Maaf, Pak. Saya sedang fokus karier. Mungkin yang lain bisa."
Diskusi pun mengambang. Ibu Martha berbisik, “Selalu begini. Kalau bukan Pak Tangguh, entah siapa lagi yang mau.”
Minggu berikutnya, misa hari Minggu penuh sesak. Kolekte berjalan lancar. Uang kolekte yang terkumpul tiap minggu memang tidak sedikit. Namun, setelah misa, suasana berubah menjadi obrolan biasa. Topik beralih dari pekerjaan hingga rencana liburan akhir pekan. Tak ada yang membahas bagaimana dana paroki sebesar itu bisa membawa perubahan nyata selain untuk konsumsi dan acara besar tahunan.
Pak Tangguh duduk di bangku pojok, memperhatikan anak-anak muda yang asyik swafoto di halaman gereja. Dalam hati, ia bertanya-tanya, “Apakah semua kegiatan ini hanya jadi rutinitas tanpa makna? Apa semua uang itu benar-benar membuat kita semakin dekat sebagai keluarga gereja?”
Di hari yang sama, Pastor Hope, gembala paroki yang dikenal ramah tapi tegas, mendekati Pak Tangguh. "Kelihatannya berat, Pak Tangguh. Sudah ada calon pengurus baru?" tanyanya dengan senyum yang meneduhkan.
Pak Tangguh menggeleng pelan. "Sulit, Romo. Banyak yang tidak siap. Yang muda banyak alasan, yang tua merasa sudah saatnya mundur."
Pastor Hope mengangguk kecil. “Mungkin kita perlu pendekatan berbeda. Mungkin perlu lebih banyak mendengar mereka.”
Beberapa minggu kemudian, pertemuan persiapan Paskah digelar. Kali ini, ada lebih banyak peserta. Namun, rapat itu terasa penuh kebisingan. Seksi liturgi ingin misa Paskah lebih tradisional, sementara seksi pemuda mengusulkan konsep kreatif dengan drama dan multimedia. Semua berdebat. Suara meninggi, argumen tumpang tindih.
Di sudut ruangan, Ibu Maria — salah satu anggota senior — bergumam kepada temannya, “Dulu waktu saya jadi pengurus, tidak begini. Semua patuh, tidak banyak protes.”
Mendengar itu, Reni, seorang pemudi yang baru bergabung di seksi kepemudaan, mendesah. “Selalu dibandingkan. Kenapa tidak ada yang mencoba mendengarkan kami?”
Pertemuan selesai tanpa keputusan jelas. Yang tersisa hanyalah rasa kesal dan kekecewaan.
Malam itu, Pak Tangguh duduk termenung di ruang tamu rumahnya. Di hadapannya ada laporan keuangan paroki — angka-angka besar yang terasa kosong. Di seberang jalan, Dimas dan teman-temannya tertawa di sebuah kafe. "Mungkin mereka tidak tahu," batinnya. "Atau mungkin kami yang tidak cukup berani mendekati mereka."
Tiba-tiba, suara bel pintu berbunyi. Reni berdiri di depan pintu dengan wajah ragu. "Pak Tangguh, boleh ngobrol sebentar?"
Mereka duduk di teras rumah. Reni bercerita tentang perasaannya yang sering tidak didengar dalam rapat, tentang teman-temannya yang ingin berkontribusi tapi merasa tersisih, dan tentang ketakutan menjadi bagian dari kepengurusan lingkungan yang dianggap "berat" oleh banyak orang.
Pak Tangguh mendengarkan dengan saksama. Dalam hatinya, ada rasa bersalah. Selama ini, mungkin yang tua hanya meminta, tapi tidak mendengarkan. Yang muda mencoba bicara, tapi diabaikan.
Esoknya, Pak Tangguh berbicara dengan Pastor Hope. “Romo, sepertinya kita butuh pendekatan baru. Bagaimana jika kita buat forum yang lebih cair, lebih mendengarkan?”
Pastor Hope tersenyum, "Itu ide bagus, Pak Tangguh. Mari kita coba. Libatkan yang muda, buat mereka merasa diterima, bukan dihakimi.”
Beberapa hari kemudian, forum temu umat diadakan di aula gereja. Bukan pertemuan formal, hanya duduk melingkar dengan kopi dan teh hangat. Pastor Hope membuka dengan kisah sederhana tentang pelayanan Yesus yang mendengarkan orang-orang kecil.
“Gereja ini milik kita semua,” katanya. “Jika ada hal yang ingin kalian bicarakan, kami siap mendengar.”
Dimas yang biasanya diam, mulai bicara. Tentang perasaan tidak dianggap serius. Tentang keinginan untuk berkontribusi dengan cara yang lebih segar. Reni bicara tentang beban ekspektasi. Pak Anton pun menyadari bahwa mendukung tidak harus selalu memimpin.
Pak Tangguh yang duduk di sisi Pastor Hope hanya bisa tersenyum. Ini bukan lagi kebisingan tanpa arah. Ini suara-suara yang membangun.
Sejak forum itu, perlahan ada perubahan. Beberapa kegiatan gereja mulai lebih kolaboratif. Dana yang ada mulai dialokasikan untuk program pembinaan pemimpin muda. Pastor Hope menginisiasi lokakarya singkat untuk melatih kemampuan komunikasi, manajemen konflik, dan kepemimpinan.
Dimas dan teman-temannya yang dulu selalu menghindar, kini aktif terlibat. Mereka tidak hanya diminta membantu acara besar, tapi diberi ruang untuk merancang dan memimpin kegiatan. Pak Anton, yang biasanya skeptis, kini mendukung dari belakang dengan pengalaman dan wejangan bijaknya.
Lingkungan Santo Patrick perlahan menjadi komunitas nyata — bukan sekadar rutinitas mingguan, tetapi keluarga yang saling mendukung.
Di balik kebisingan rumah Tuhan, ada suara-suara kecil yang perlu didengarkan. Suara yang bisa membuat gereja tidak hanya menjadi bangunan besar dengan dana besar, tetapi sebuah keluarga nyata — saling mendengarkan, saling mendukung, dan saling memahami.
Selesai
Cijantung, Maret 2025