Loading...
Cerpen

Cerpen "Rahmat Menyembuhkan"

  • 18 Mar 2025
  • Renungan

Bruno duduk termenung di bangku gereja yang sepi. Di tangannya, rosario tergenggam erat. Hatinya dipenuhi kebingungan.

"Kenapa aku harus mengaku dosa lagi? Toh, aku jatuh di kesalahan yang sama."

Ia menghela napas panjang. Sudah berulang kali ia datang ke sakramen rekonsiliasi, mengakui kelemahan yang sama, dan berjanji untuk berubah. Namun, seperti gelombang pasang yang datang dan pergi, ia kembali jatuh.

"Mungkin aku memang tidak pantas jadi seorang Kristen," pikirnya. "Bagaimana mungkin aku mengaku percaya, tapi masih terus bergumul dengan kesalahan yang sama?"

Di altar, lilin-lilin kecil tetap menyala. Bruno memandang salib Yesus yang terpampang di depan. Kata-kata Yesus terlintas di benaknya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus memikul salibnya setiap hari."

"Salibku ini... mungkin adalah kelemahanku sendiri," gumamnya pelan.

Mungkin bukan tentang seberapa sempurna ia bisa menjadi, melainkan tentang seberapa besar ia mau percaya pada rahmat Allah.

Pelan-pelan, Bruno bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang pengakuan dosa. Kali ini, bukan karena ia ingin sempurna, tetapi karena ia ingin tetap berjalan bersama Allah, meskipun dengan segala ketidaksempurnaannya.

Sebab, ia mulai mengerti: bukan kesempurnaan yang membuatnya layak di hadapan Allah, tetapi kasih dan rahmat-Nya yang selalu menyembuhkan.

Cijantung, Minggu Kedua Prapaskah

Hallo, ada yang bisa dibantu?