Loading...
Cerpen: Di Ambang Pintu

Cerpen: Di Ambang Pintu

  • 29 Mar 2025
  • Renungan

CERPEN

DI AMBANG PINTU

Di kejauhan, bukit-bukit hijau bergelombang seperti ombak yang membeku. Hutan yang jauh tampak seperti benteng raksasa, misterius dan penuh rahasia. Di bawahnya, jalan setapak berkelok di antara ladang dan rumah-rumah tua. Udara sore membawa aroma tanah basah dan rerumputan yang baru dipotong.  

Anton duduk di atas batu besar di pinggir jalan desa, menatap langit yang mulai berubah warna. Ia mendengar banyak suara di dalam kepalanya. Ada suara yang mengajaknya pergi, mengejar impiannya yang sempat tertunda. Ada juga suara lain, lebih dalam, lebih lembut, yang mengingatkannya untuk kembali, pulang ke rumah.  

Sudah hampir tujuh tahun Anton meninggalkan desa ini. Ia pergi dengan janji besar—akan menjadi seseorang yang sukses, membangun kehidupan yang lebih baik, dan membanggakan orang tuanya. Namun, kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan. Ia terseret dalam kehidupan kota yang keras, mencoba berbagai pekerjaan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Akhirnya, yang tersisa hanyalah kelelahan dan rasa kehilangan.  

Sekarang, di masa Prapaskah ini, ia kembali ke tempat yang pernah ia tinggalkan. Ia tidak tahu apakah ini langkah yang benar atau hanya pelarian dari kenyataan. Yang jelas, ada sesuatu di dalam hatinya yang berkata, "Pulanglah."  

Di rumah kecil di ujung desa, seorang wanita tua duduk di teras, menatap jalan dengan tatapan kosong. Matanya yang sudah mulai rabun tetap setia menunggu, berharap suatu hari anaknya akan kembali.  

Ketika Anton melangkahkan kakinya ke halaman rumah, jantungnya berdebar kencang. Ia melihat ibunya yang sedang duduk dengan tangan mengelus tasbih di pangkuannya. Perasaan bersalah langsung menyelimutinya. Bagaimana mungkin ia pergi begitu lama tanpa kabar?  

"Ibu..." suara Anton lirih, hampir seperti bisikan.  

Wanita tua itu menoleh perlahan, seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Matanya berkaca-kaca, dan bibirnya bergetar sebelum akhirnya mengucapkan, "Anton?"  

Anton mengangguk, dan dalam sekejap, ibunya bangkit dengan tertatih, meraih tubuhnya dalam pelukan erat. "Kamu pulang, Nak... kamu pulang," bisiknya dengan suara gemetar.  

Anton merasakan kehangatan yang lama ia rindukan. Pelukan itu mengingatkannya pada masa kecilnya, pada malam-malam ketika ibunya membisikkan doa di samping tempat tidurnya, pada pagi-pagi saat ia terbangun oleh aroma roti jagung yang dipanggang di dapur.  

Namun, di balik keharuan ini, ada satu ketakutan yang mengganjal di hatinya—ayahnya.  

Anton menarik napas dalam-dalam sebelum bertanya, "Ayah di mana, Bu?"  

Ibunya menatapnya dengan ragu. "Ayahmu... dia di gereja. Sejak kamu pergi, dia lebih sering ke sana. Mungkin... dia masih marah, Nak."  

Anton mengangguk pelan. Ia tahu, kepergiannya meninggalkan luka bagi ayahnya. Ayahnya adalah pria yang keras, tidak banyak bicara, tapi hatinya penuh kasih. Anton pernah melihat itu, dalam cara ayahnya bekerja tanpa lelah untuk keluarga, dalam caranya diam-diam memperbaiki sepeda Anton yang rusak, atau dalam cara ia berdiri diam di pintu saat Anton berangkat ke kota—seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak tahu bagaimana mengatakannya.  

**Malam itu, Anton tidak bisa tidur.**  

Di kamar lamanya, ia memandangi dinding yang masih dihiasi oleh gambar-gambar masa kecilnya. Ada foto keluarganya, berdebu tapi tetap utuh. Ada buku-buku doa yang dulu sering dibacakan ibunya. Ada keheningan yang mengingatkannya pada sesuatu yang telah lama ia lupakan—kedamaian.  

Esok paginya, Anton berjalan menuju gereja kecil di tengah desa. Bangunan sederhana itu masih tampak sama seperti yang ia ingat, dengan lonceng tua yang tergantung di atas menara kecilnya.  

Saat ia masuk, ia melihat ayahnya duduk di bangku paling depan, membungkuk dalam doa.  

Anton berdiri di ambang pintu, ragu-ragu. Ia ingin melangkah maju, tapi kakinya terasa berat. Ia takut akan reaksi ayahnya.  

Kemudian, seorang pastor tua berjalan mendekat. Ia menatap Anton dengan senyum hangat, seolah-olah ia sudah lama menunggu kedatangannya.  

"Kamu akhirnya pulang," katanya lembut.  

Anton hanya tersenyum kecil. Pastor itu menatap ke arah ayahnya, lalu kembali pada Anton. "Kadang, kita hanya perlu mengambil satu langkah kecil untuk menemukan jalan pulang."  

Anton menelan ludah, lalu mengangguk. Ia mengambil langkah pertama ke dalam gereja, mendekati ayahnya yang masih tenggelam dalam doa.  

Hatinya berdebar.  

Ia ingin mengatakan sesuatu.  

Tapi sebelum ia sempat berbicara, ayahnya sudah lebih dulu menoleh.  

Mata mereka bertemu.  

Anton melihat sesuatu di sana.  

Luka.  

Rindu.  

Dan sesuatu yang lain... harapan.  

Anton membuka mulutnya, tapi kata-kata tidak keluar.  

Ayahnya menarik napas panjang. Ia tidak berkata apa-apa.  

Tapi di matanya, Anton tahu—ia telah kembali.  

Dan mungkin, itu sudah cukup.

Hallo, ada yang bisa dibantu?