Cerpen
Tanah Suci di Hatiku
Di sebuah desa kecil di lereng gunung, seorang pemuda bernama Raya bercucuran keringat . Memang Ia dikenal sebagai pekerja keras, tetapi sering merasa gelisah. Ada sesuatu dalam hatinya yang terasa kosong, meskipun ia memiliki segalanya—tanah yang luas, ternak yang sehat, dan hasil panen yang melimpah.
Suatu hari, seorang lelaki tua yang bijaksana datang ke desa itu. Ia dikenal sebagai seorang peziarah yang berjalan dari satu tempat ke tempat lain, berbicara tentang kasih Tuhan. Raya penasaran dan mendekatinya.
"Selamat pagi orangtua, saya ingin bertanya. Saya sudah bekerja keras, memiliki banyak harta, tetapi mengapa hati saya terasa kosong?" tanyanya.
Orang tua itu tersenyum, menatap Raya dengan mata yang penuh kelembutan. "Anakku, apa yang kau cari dalam hidup?"
Raya berpikir sejenak, lalu menjawab, "saya.. ingin bahagia, merasa damai, dan hidup tanpa kekosongan ini."
Orang tua itu mengambil segenggam tanah dan berkata, "Tanah ini adalah kehidupan. Tuhan hadir di dalamnya. Seperti tanah ini, hatimu juga tempat Tuhan hadir. Namun, jika hatimu penuh dengan kesombongan, keangkuhan, dan ketamakan, Tuhan tidak dapat tinggal di sana. Tanah itu menjadi kering, mati."
Raya mengerutkan kening. "Lalu, bagaimana caranya agar tanah itu tetap hidup?"
Orang tua itu menunjuk ke sungai yang mengalir jernih di dekat mereka. "Cintailah Tuhan dan sesamamu seperti air ini yang mengalir tanpa pilih kasih. Air memberi kehidupan pada tanah. Begitu pula cinta yang berasal dari Allah—ia menghidupkan hati yang kering dan kosong."
Sejak hari itu, Raya mulai melihat hidupnya dengan cara yang berbeda. Ia belajar berbagi dengan sesama, menghargai alam sebagai tempat Tuhan hadir, dan menanggalkan kesombongan serta ketamakannya.
Namun, suatu hari, desa mereka dilanda kekeringan panjang. Sungai yang biasanya mengalir deras kini hanya menyisakan sedikit air. Ladang-ladang mengering, dan banyak penduduk mulai kehilangan harapan.
Raya tidak tinggal diam. Ia teringat akan kata-kata orang tua itu—bahwa ia harus menjadi seperti air yang memberi kehidupan. Ia mengajak penduduk untuk tetap bekerja sama, berbagi persediaan air, dan berdoa dengan penuh iman.
"Jangan hilang harapan, sodara-sodara" katanya kepada mereka. "Kita adalah tanah tempat Tuhan hadir. Kita harus menjaga kehidupan, bukan hanya dengan air, tetapi dengan cinta dan kepedulian kita."
Hari demi hari, mereka bekerja bersama. Dengan semangat baru, mereka membuat sistem penampungan air sederhana dan membangun sumur kecil. Perlahan, desa itu kembali bersemi. Kekeringan memang masih ada, tetapi mereka tidak lagi kehilangan harapan.
Orang tua bijaksana itu kembali datang pada Raya dan berkata, "Anak muda, kini kau telah menjadi misionaris harapan. Kau membawa kehidupan tidak hanya untuk dirimu sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Itulah cinta sejati—cinta yang tidak mati, tetapi terus menyala karena kasih kepada Allah dan sesama."
Raya tersenyum. Ia sadar bahwa cinta sejati bukan hanya tentang memiliki, tetapi tentang memberi dan menghidupkan.
"Ah..aku adalah misionaris harapan ", gumam Raya setengah tidak percaya sambil menatap langit meyakinkan diri.
Ya.. sejak saat itu, ia tidak lagi merasa kosong—karena ia tahu, telah menjadi tanah suci yang subur, tempat di mana harapan dan kasih bertumbuh.
Cijantung, Minggu Ketiga Prapaskah.