CINTA YANG TAK PIKUN
Hari ini saya dijemput oleh Mas Eko Wahyudono. Mobil kami meluncur mulus di atas Jakarta Outer Ring Road, menuju Cilincing, Jakarta Utara. Hari itu masih suasana libur Idulfitri, hari ketiga. Jalanan sepi, langit bersih, udara terasa lapang.
Tujuan kami: Yayasan Atmabrata. Tempat ini berdiri sejak tahun 2010 berkat gagasan dan kepedulian Br. Petrus Partono, PSS. Misi mereka sederhana namun luar biasa: merawat yang rapuh dan terpinggirkan—para lansia, ODGJ, anak-anak berkebutuhan khusus, juga pendidikan anak usia dini, pelatihan kerja, hingga klinik rakyat bertarif lima ribu rupiah.
Kami datang untuk Misa Jumat Pertama, 4 April 2025. Undangan datang dari Ibu Joice Mamahit, sosok tangguh yang juga membina tak kurang dari 700 taman kanak-kanak. Ketika kami tiba, para lansia sudah menanti. Ada yang duduk di kursi roda, ada yang tetap di tempat tidur. Tapi semangat mereka tak pernah renta. Tatapan mata penuh sukacita, tangan-tangan yang terangkat dalam doa, dan senyum yang tulus menyambut kami.
Yang paling menyentuh, tentu saja kisah-kisah yang tersembunyi di balik wajah-wajah penuh kerut itu.
"Kalau sudah pikun, mereka seperti anak-anak lagi," kata Bu Lina dari Lingkungan Barnabas sambil tersenyum. "Tapi kita tetap rawat, kita hibur. Jaga mereka seperti jaga telur ayam saja. Penuh cinta dan hati-hati."
Ada juga kisah pilu yang diceritakan Bu Joice. Tentang seorang ibu yang dulu aktif dalam pelayanan, khususnya Legio Maria. Ia begitu rindu punya anak dan doanya dijawab Tuhan. Tapi setelah anaknya dewasa, ia justru disingkirkan. Dengan kejam. Dibawa ke Katedral seolah untuk berdoa, lalu ditinggal begitu saja. Beruntung ia ditemukan dan diselamatkan. Tapi hatinya patah. Ia pernah berkata, “Kalau saya meninggal nanti, tak perlu beri tahu keluarga. Kremasi saya dan taburkan abu saya.”
Saya pun tak bisa menahan diri. Saya ambil gitar, menyanyikan lagu-lagu sederhana bersama mereka. Suara kami mungkin tak sempurna, tapi tawa mereka adalah nada terindah. Di antara keriput dan kursi roda, ada semangat yang tak lekang oleh waktu.
Semoga cinta yang mereka terima di sini, menghapus luka-luka yang pernah mereka alami. Semoga dalam segala kerapuhan mereka, tetap ada tawa, sukacita, dan damai.
Karena cinta sejati, memang tak pernah pikun.
Salam Copiosa Apud Eum Redemptio