Hari sudah beranjak siang, dan suasana di Pos Jaga Porta Santa semakin ramai. Para peziarah datang silih berganti, memenuhi area dengan wajah penuh harapan dan semangat. Ini adalah hari kedua Idulfitri, momen yang penuh kebersamaan dan sukacita, tidak hanya bagi para peziarah, tetapi juga bagi mereka yang bertugas menyambut dan melayani.
Sejak akhir Februari, umat paroki secara bergilir menjalankan tugas menjaga Porta Santa. Mereka datang dari berbagai seksi dan kelompok yang ada di paroki, memberikan diri mereka secara sukarela untuk memastikan bahwa setiap peziarah merasa diterima dengan baik. Dengan penuh keramahan, mereka menyapa, mengarahkan, dan berbagi cerita dengan para pengunjung yang datang dari berbagai paroki dan gereja.
Bagi banyak among tamu, pengalaman ini bukan hanya tentang bertugas, tetapi juga menjadi kesempatan berharga untuk menjalin relasi baru. "Ketemu teman satu paroki yang sebelumnya belum dikenal, jadi kenal. Seru juga bisa ngobrol dan berbagi pengalaman," ujar seorang ibu dengan senyum hangat.
Hal serupa dirasakan oleh Mbak Dewi, yang mengaku senang bertemu dengan banyak orang dari berbagai paroki. "Rasanya menyenangkan bisa berkenalan dengan peziarah yang datang dari tempat-tempat berbeda. Kadang ada yang datang dari luar kota, bahkan luar pulau. Kami saling bertukar cerita dan pengalaman iman."
Bukan hanya sekadar menjaga dan menyambut tamu, para penjaga juga menjadi bagian dari alur pelayanan yang lebih luas. Salah satu anggota tim SABUK (Sentra Bimbingan Usaha Kecil) bercerita, "Banyak paroki yang memesan katering dari sini. Kami senang bisa ikut melayani dengan cara ini, mendukung para peziarah yang datang agar mereka bisa lebih fokus pada doa dan refleksi."
Kehangatan tidak hanya datang dari para among tamu, tetapi juga dari para peziarah sendiri. "Para peziarah yang datang sangat ramah. Mereka datang dengan semangat dan rasa syukur. Ada yang membawa cerita tentang perjalanan rohani mereka, ada juga yang datang untuk sekadar mencari ketenangan di tempat suci ini," kata salah seorang penjaga dengan mata berbinar.
Momen istimewa lainnya adalah kehadiran para romo yang selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi pos jaga. "Kami senang ketika romo datang dan menyapa kami. Itu memberikan semangat tersendiri. Rasanya seperti diingatkan kembali bahwa pelayanan ini adalah bagian dari misi bersama dalam gereja," ujar seorang penjaga dengan penuh syukur.
Di tengah tugas yang mereka emban, para penjaga Porta Santa merasakan bahwa melayani bukanlah beban, melainkan sebuah anugerah. Setiap senyum yang diberikan dan setiap sapaan yang diterima menjadi bagian dari perayaan iman yang hidup. Porta Santa bukan hanya menjadi gerbang bagi para peziarah, tetapi juga menjadi pintu bagi para penjaga untuk semakin bertumbuh dalam kasih dan kebersamaan.
Jadilah Missionaris Harapan.