Loading...
HARI YANG LUAAAARRRR BIASA BERSAMA BAPA SUCI FRANSISKUS.

HARI YANG LUAAAARRRR BIASA BERSAMA BAPA SUCI FRANSISKUS.

  • 21 Apr 2025
  • Renungan

#memory 

HARI YANG LUAAAARRRR BIASA BERSAMA BAPA SUCI FRANSISKUS.

Sore hari ini, 21 April 2025 berita wafatnya Paus Fransiskus memenuhi berita dunia. Saya hanya mau mengenang waktu istimewa bertemu beliau pada tanggal 2 Oktober 2022 di Kota abadi, Roma.

********

Pagi itu kami memulai hari dengan sarapan pukul 07.00, lalu dilanjutkan dengan misa pada pukul 08.00 di masing-masing konferensi. Delegasi ASIOC merayakan misa di kapel kecil—khusyuk dan sederhana.

Pukul 09.30, dua bus sudah siap mengantar kami ke Vatikan. Hari yang istimewa ini menjadi lebih istimewa karena kami akan beraudiensi dengan Paus Fransiskus! Banyak dari kami baru pertama kali bertemu langsung dengan beliau. Semua tampak rapi dengan jubah hitam atau pakaian lengkap dengan roman collar—saya pun baru pertama kali mengenakannya, dan ternyata bukan saya saja!

Pukul 10.30 kami tiba di Lapangan Santo Petrus. Beberapa konfrater yang bertugas mengarahkan kami ke jalur khusus. Orang-orang di sekitar terlihat heran melihat ratusan pria berjubah hitam mengantre masuk ke Istana Apostolik.

Sambil menunggu, banyak yang tak melewatkan kesempatan berfoto. Suasana penuh sukacita—berjalan bersama sebagai saudara, dan kini, sebentar lagi bertemu dengan pemimpin Gereja Katolik sedunia.

Tepat pukul 11.00 kami mulai memasuki kompleks kediaman Paus. Swiss Guard yang gagah berdiri di gerbang, memberi hormat dan mengarahkan kami ke Aula Clementine di lantai atas, tak jauh dari kamar pribadi Paus.

Tangga demi tangga kami lewati. Beberapa konfrater senior terlihat berjuang naik ke atas, tapi semangat bertemu Bapa Suci membuat langkah tak berhenti.

Aula Clementine benar-benar memukau. Dibangun sejak abad ke-17, dindingnya dipenuhi lukisan fresco yang luar biasa indah—benar-benar ruang yang penuh sejarah dan keagungan.

Kurang dari sepuluh menit sebelum pukul 12.00, Bapa Suci memasuki ruangan. Semua berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah. Di usianya yang lanjut, beliau masih berjalan perlahan tapi penuh wibawa.

Pater General lalu menyampaikan sambutan dan maksud audiensi. Setelah itu, giliran Bapa Suci berbicara. Beliau memulai dengan nada bercanda:

“Sambutan saya ada enam halaman. Tapi saya tidak akan membacanya. Ini sudah waktunya makan siang. Kalian pasti tidak akan mendengarkan.”

“Cara tercepat ‘membunuh’ seorang biarawan adalah dengan mengambil waktu siesta dan menunda makan siangnya!”

Semua tertawa. Lalu beliau melanjutkan sapaan spontan yang sangat menyentuh.

Paus Fransiskus mengajak kami, para Redemptoris, untuk senantiasa sadar diri dan berani keluar dari zona nyaman—baik sebagai pribadi, komunitas, unit, maupun kongregasi.

“Sebagai misionaris, tinggalkan zona nyamanmu.”

Ia juga mendorong agar kami terus mewartakan ajaran moral Gereja, baik lewat hidup sehari-hari maupun lewat Akademi Alfonsiana.

“Jangan pernah lelah menjadi guru moral,” pesannya penuh semangat.

Tentang ketaatan, beliau mengingatkan dengan tegas:

“Kadang kita mengira sudah taat, padahal hanya melakukan apa yang kita sendiri inginkan. Itu bukan ketaatan—itu egois.”

Menjelang akhir sapaan, beliau menyapa dengan gaya khasnya. Kepada Pater Michael Brehl, beliau berseloroh:

“Hidup di Roma itu tidak mudah. Kalau kecewa, ya minum cachaça (arak tebu), sedikit saja tidak apa-apa.”

Ruangan pun penuh tawa.

Setelah itu, satu per satu kami maju untuk berjabat tangan dengan Paus. Kami sudah diingatkan: tidak perlu berlutut atau mencium tangan. Setiap orang mendapat rosario sebagai kenangan.

Setelah foto bersama, sebelum kembali ke kamar pribadinya, Bapa Suci masih sempat berpesan:

“Don’t forget to leave your comfort zone as a missionary.”

Kami bertepuk tangan sekali lagi. Seorang konfrater dari Venezuela spontan berseru:

“¡Viva Papa Francesco! ¡Viva Iglesia! ¡Viva Jesucristo!”

Saat kami turun dari aula, orang-orang yang berdiri di pagar menyambut kami dengan tepuk tangan. Mereka ikut bergembira setelah tahu kami baru saja beraudiensi dengan Paus.

 

Kesan hari ini?
Satu kata: bangga. Bangga punya paus yang sederhana, hangat, dan penuh semangat misioner.

Kami semua pulang dengan hati penuh sukacita.

2 Oktober 2022

Requescat In Pace Santo Padre

Hallo, ada yang bisa dibantu?