Hujan rintik-rintik turun sore itu ketika Samuel masuk ke dalam gereja kecil di pinggir kampung. Bukan karena niat doa yang luar biasa, tapi karena ia sedang bosan di rumah dan ingin mencari tempat tenang. Lagipula, sore ini ada Misa Kamis Putih. Ia ingat, karena ibunya biasa menyuruhnya ikut, meski kali ini ibunya sedang sakit.
Samuel duduk di baris paling belakang. Gereja tidak penuh, tapi suasananya hangat. Lilin menyala di altar, lagu-lagu dinyanyikan perlahan, dan Pastor Markus menyampaikan homili yang berbeda dari biasanya.
Tiga hal ia sampaikan dengan tenang: melayani dengan rendah hati, berbagi secara rela, dan menjadi pembawa Kristus.
Samuel tidak begitu memperhatikan awalnya, sampai saat pembasuhan kaki. Ia melihat Pastor Markus berlutut, satu per satu membasuh kaki umat yang dipilih: seorang petani tua, ibu rumah tangga yang selalu duduk di pojok, bahkan seorang anak jalanan yang baru seminggu terakhir sering duduk di tangga gereja.
Hmm..Beberapa bahkan baru melewati lumpur yang biasa dilewati kerbau di kampung kami. Jadi bisa dibayangkan kotornya kaki beberapa dari mereka. Ya.. sekali lagi kaki-kaki itu dibasuh dan dicium.
Mereka semua tampak terkejut, malu, dan tersentuh. Tapi bukan itu yang membuat Samuel terdiam. Di bawah bangkunya sendiri, ia melihat sesuatu: sepasang sandal tua. Butut, hampir jebol. Ia menoleh, dan di sebelahnya ada seorang laki-laki tua yang duduk dengan tenang. Pakaiannya lusuh, rambutnya memutih, dan ia terus menatap altar dengan mata berkaca-kaca.
Samuel tak tahan untuk tidak bertanya pelan, “Punya Bapak, ya?”
Orang tua itu tersenyum, “Iya, Nak. Itu sandal satu-satunya.”
Samuel terdiam. Ia teringat sepatunya sendiri di rumah—dua pasang baru dibelikan ayah bulan lalu.
Misa berakhir, dan umat mulai pulang. Tapi Samuel masih duduk, matanya menatap altar yang perlahan padam. Ia seperti enggan pergi. Tiba-tiba seorang suster menghampirinya, tersenyum lembut, dan berkata, “Misa sudah selesai, Nak. Tapi itu artinya: sekarang kamu diutus.”
"Apa? Diutus?", ucap Sam membatin.
Kata-kata itu terasa asing, tapi kuat. Ia merasa seperti ada sesuatu yang menantinya di luar sana.
Malam itu, Samuel pulang, melewati gang kecil menuju rumahnya. Di tengah jalan, ia melihat seorang bocah menangis di dekat warung tutup. Namanya Beni, adik kelasnya di sekolah.
“Kamu kenapa, Ben?”
“Sandal saya hilang... Tadi main, terus hujan, aku tinggalkan di warung, pas balik sudah tidak ada,” jawabnya tersedu.
Samuel melihat kaki Beni yang basah dan kotor. Sekilas, ia teringat sandal tua si Bapak di gereja. Lalu wajah Pastor Markus saat membasuh kaki umat. Tanpa pikir panjang, Samuel membuka sandalnya sendiri dan meletakkannya di depan Beni.
“Pakai punya saya. Rumah saya dekat.”
Beni menolak, malu. Tapi Samuel memaksa, lalu menggendong tasnya. “Besok kamu harus datang sekolah. Jangan bolos hanya karena kaki kotor.”
Beni menatapnya heran. “Kenapa engkau baik sekali, Sam?”
Samuel tidak tahu harus menjawab apa. Tapi dalam hatinya, ia merasa sangat hangat—seperti habis disalakan lilin.
Besoknya, Samuel bangun pagi. Sepatunya dipilih yang lama, sedikit kekecilan, tapi masih bisa dipakai. Ia menyiapkan sarapan untuk ibunya, bahkan sempat membantu menyapu halaman.
Ibunya heran. “Hari ini kamu jadi anak baik sekali. Ada apa?”
Samuel hanya tersenyum. Dalam hatinya, ia tahu: ia sedang belajar menjadi "pembawa Kristus."
Hari-hari berikutnya, Samuel berubah sedikit demi sedikit. Ia jadi lebih peka pada orang lain. Ia mulai menyapa orang tua yang biasanya ia lewati begitu saja, membantu tetangga mengangkat air, bahkan menemani ibunya ke puskesmas.
Yang paling mengejutkan adalah saat ia mengumpulkan sebagian uang jajan untuk membelikan sandal baru buat Bapak tua di gereja. Ia tidak mengatakan itu dari dirinya. Ia menitip lewat suster.
Suster itu tersenyum padanya, “Samuel, kamu sudah mulai membasuh kaki orang lain, ya?”
Samuel tertawa kecil. “Belum, Suster. Masih belajar.”
Suatu malam, beberapa minggu kemudian, Samuel duduk kembali di gereja. Kali ini tidak sendiri, tapi bersama Beni, ibunya, dan bahkan Bapak tua bersandal baru itu.
Pastor Markus kembali berkhotbah, dan berkata, “Kadang, kita tidak perlu menjadi orang besar untuk membawa Kristus ke dunia. Cukup dengan sebuah senyuman, sepasang sandal, atau waktu lima menit untuk mendengar orang lain.”
Samuel menunduk, lalu tersenyum.
Sepasang sandalnya memang sudah berpindah kaki. Tapi hatinya telah melangkah lebih jauh.
Ia tahu, menjadi saksi Kristus tidak harus dengan kata-kata besar.
Cukup dengan kasih yang konkret—dan hati yang terbuka.
CATATAN Akhir Cerita
Semoga kita:
Melayani dalam kesederhanaan dan kerendahan hati, bahkan dalam tindakan kecil;
Berbagi secara nyata dan berani mengorbankan kenyamanan kita;
Menjadi utusan Kristus, bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan nyata yang mencerminkan cinta-Nya.
Jika Bapa menghendaki, bahkan dari hal kecil seperti sepasang sandal, bisa lahir perubahan besar.
Amin.