Loading...
Misa Penutupan Bulan Rosario Oktober 2024

Misa Penutupan Bulan Rosario Oktober 2024

  • 02 Nov 2024
  • Berita

PENUTUPAN BULAN ROSARIO DAN PERARAKAN MARIA DI CIJANTUNG

Pagi tadi, anak-anak TK dan PAUD Slamet Riyadi bersama para guru mereka berkumpul di Gua Maria Bunda Selalu Menolong, yang terletak di halaman Paroki St. Aloysius Gonzaga, Cijantung.

Ini memang kegiatan rutin. Di bulan Rosario, anak-anak sekolah, terutama SD, TK, dan PAUD, bergantian datang untuk berdoa pagi di sana. Seperti biasa, namanya anak-anak, tingkah mereka kadang bikin guru kelabakan; ada saja yang main sembunyi-sembunyian atau petak umpet.

Tapi pagi ini, ada yang berbeda. Saya mendengar celotehan lucu dari sekelompok anak TK yang baru saja pulang dari sana. Mereka ternyata asyik membahas apa yang mereka lihat di Gua Maria.

“Kondenya Ibu Maria ada kawat panjang, ya? Kasihan, rambutnya ditusuk-tusuk,” kata seorang gadis kecil sambil menggandeng temannya.

“Iya, ada malaikat yang tergantung juga. Nggak sakit, ya?” tambah temannya.

“Eh, itu supaya Ibu Maria bisa gerak-gerakkan kepala, lho,” ujar seorang anak laki-laki yang berjalan bersama mereka.

Ah, saya hanya bisa tersenyum mendengar diskusi kecil mereka. Seru juga melihat dunia dari sudut pandang mereka yang polos.

 

Sore ini, 31 Oktober, adalah penutupan bulan Rosario. Paroki Cijantung mengadakan prosesi Maria, dimulai dari halaman Sekolah Slamet Riyadi. Umat berkumpul sesuai wilayah mereka masing-masing, dan prosesi dibuka pukul 18.00.

Sambil menanti, umat berdoa dalam kelompok kecil. Prosesi ini diikuti oleh 13 wilayah (47 lingkungan). Ini adalah kali pertama prosesi Maria diadakan di sini.

Setiap wilayah berjalan menuju gereja, sambil bernyanyi dan berdoa. Meski meriah, suasana doa yang khusyuk tetap terasa. Ikon Maria Bunda Selalu Menolong ada di urutan terakhir, diletakkan di atas tandu dan dibawa oleh empat ibu prodiakon yang penuh hormat.

Di akhir prosesi, umat didoakan dan diberkati, lalu diperciki air sebagai tanda selamat datang kembali di "rumah." 

Usai prosesi, perayaan dilanjutkan dengan Ekaristi. Setelah misa, umat berkumpul di halaman gereja untuk menikmati snack yang telah disediakan. Kebahagiaan begitu terasa di wajah setiap orang.

“Kami senang sekali dengan prosesi ini. Rasanya seperti nostalgia, kembali pulang setelah sekian lama,” ungkap seorang ibu sambil tersenyum.

"Terima kasih, Romo. Ini rasanya seperti pulang kampung,” ucap seorang ibu asal Ende, penuh haru.

Ya, seluruh umat terlibat dan bergembira bersama. Kehangatan dan rasa kebersamaan begitu nyata.

Tak ketinggalan, banyak anak muda yang juga ikut ambil bagian. Semoga perayaan ini semakin memperdalam iman kita semua.

 

Ditulis oleh RP. Wilhelmus Ngongo Pala, CSsR

Hallo, ada yang bisa dibantu?