PASKAH
“TERANG DARI HALAMAN BELAKANG”
Namanya Elis. Usianya 16 tahun, duduk di bangku kelas 2 SMA. Ia tinggal di sebuah gang sempit di pinggiran kota, di rumah sederhana berdinding papan yang sudah mulai rapuh dimakan usia. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci, ayahnya entah ke mana sejak ia duduk di kelas 4 SD. Elis tumbuh dengan banyak pertanyaan, lebih banyak luka daripada tawa.
Hari-hari menjelang Paskah, Elis merasa hidupnya justru makin gelap. Ibunya jatuh sakit, tak mampu lagi pergi mencuci. Uang simpanan habis untuk obat dan makan. Sekolah? Hampir ia tinggalkan. Baginya, belajar di tengah kekosongan perut dan tagihan sekolah yang menumpuk hanya menambah tekanan.
Suatu sore, ketika langit mulai jingga, Elis duduk di halaman belakang rumah. Di sana ada pohon pepaya yang sudah tua, dan kursi plastik yang salah satu kakinya patah, tapi masih bisa menopang tubuh kurusnya. Ia termenung, matanya menatap kosong ke tanah. Matanya sembab karena baru saja menangis. Ia merasa... lelah. Lelah berharap. Lelah bangkit hanya untuk jatuh lagi.
Suara langkah kaki membuatnya menoleh. Pak Anton, tetangganya yang juga adalah ketua lingkungan di gereja, berdiri di sana sambil membawa lilin dan selembar undangan kecil.
“Elis,” katanya lembut, “Minggu ini kita akan adakan Misa Malam Paskah di kapel. Kamu datang, ya. Kami butuh yang baca Mazmur.”
Elis memaksa tersenyum. Tapi dalam hati, ia nyaris menolak. Untuk apa datang ke misa, ketika Tuhan seolah diam saja melihat ibunya sakit dan dirinya nyaris putus sekolah?
Tapi Pak Anton tak mendesak. Ia hanya berkata, “Paskah bukan soal keadaan kita, Lis. Tapi tentang kasih yang tetap hidup, bahkan di tengah kematian.” Lalu ia pergi, meninggalkan lilin di atas kursi yang nyaris roboh itu.
Malam Paskah datang. Kapel kecil di ujung gang itu dipenuhi lilin dan cahaya hangat. Elis akhirnya datang—bukan karena keyakinan, tapi karena tak ingin mengecewakan Pak Anton. Ia mengenakan baju sederhana dan berdiri di dekat altar, dengan selembar kertas bacaan Mazmur di tangan.
Sesuatu terjadi ketika ia mulai membaca:
“Aku bersyukur kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”
Suara Elis gemetar, tapi di tengah gemetar itu ada sesuatu yang mengalir—seperti air hangat yang menyusup perlahan ke hatinya yang beku. Ia tidak tahu mengapa, tapi malam itu ia menangis. Bukan karena sedih. Tapi karena ada rasa... hidup.
Usai misa, ia duduk sendiri di bangku paling belakang. Pak Anton menghampirinya. “Kamu menangis?”
Elis mengangguk pelan. “Tiba-tiba saya merasa... Tuhan masih di sini. Walau saya nggak punya apa-apa.”
Pak Anton tersenyum. “Itu artinya kamu mengalami Paskah. Santo Alfonsus pernah bilang, ‘Yesus bangkit bukan untuk menunjukkan kuasa, tapi kasih yang tak terkalahkan.’ Itu kasih yang kamu rasakan.”
Elis tak menjawab. Tapi dalam hatinya, sesuatu sudah mulai menyala.
Esoknya, seperti biasa, Elis duduk di halaman belakang. Tapi kali ini ia membawa buku catatannya. Ia menulis, bukan tentang keluhan, tapi tentang impian. Ia ingin suatu hari bisa menjadi guru. Ia ingin membantu anak-anak lain yang merasa hidupnya tak punya harapan.
Sore itu, Bu Siska, guru agama dari sekolahnya, datang berkunjung.
“Elis, aku dengar ibumu sakit. Dan kamu jarang ke sekolah. Kami semua khawatir.”
Elis menunduk. “Saya nggak bisa bayar SPP, Bu. Ibu juga tidak kerja lagi...”
Bu Siska menggenggam tangan Elis. “Kami guru-guru sudah sepakat, untuk bantu kamu sampai tamat. Kamu hanya perlu satu hal: jangan menyerah.”
Lagi-lagi air mata jatuh dari mata Elis. Tapi kali ini, tangis itu seperti mata air yang menghidupkan tanah kering di hatinya.
Hari-hari berikutnya, Elis mulai kembali ke sekolah. Ia membantu ibunya di rumah, dan ketika malam tiba, ia belajar di bawah lampu minyak kecil yang diletakkan di halaman belakang. Di sanalah, perlahan tapi pasti, Elis menemukan kembali hidup.
Ia mulai aktif di lingkungan. Mengajar anak-anak kecil untuk baca Alkitab. Menjadi lektor setiap Minggu. Menulis puisi-puisi kecil tentang harapan dan kasih Tuhan. Ia tidak menjadi kaya, tapi ia tahu: hidupnya berarti.
Suatu hari, ia menulis di catatannya:
“Aku pikir dulu Paskah itu hanya tentang Yesus yang bangkit dari kubur. Tapi sekarang aku tahu: Paskah adalah ketika aku bangkit dari keterpurukan. Ketika aku bisa mencintai lagi, berharap lagi, dan percaya bahwa Tuhan masih bekerja, bahkan dalam kesunyian halaman belakang rumahku.”
Dan di bawah tulisan itu, ia menggambar sebatang lilin kecil. Karena baginya, terang tak harus besar. Yang penting: ia menyala.
Lima tahun berlalu.
Elis kini adalah guru muda di sekolah dasar Katolik di kota kecilnya. Ia belum menikah, dan masih tinggal bersama ibunya yang kini sudah jauh lebih sehat. Rumah mereka masih sederhana, tapi penuh canda dan doa.
Setiap malam Paskah, Elis selalu menaruh sebuah lilin di halaman belakang. Ia duduk di kursi plastik yang sama, kini sudah diperbaiki. Ia mengenang masa-masa sulit, dan ia tersenyum—karena ia tahu, di sanalah kasih Tuhan paling nyata.
Malam itu, ia menulis:
“Yesus bangkit bukan untuk membuat hidupku mudah. Tapi untuk menunjukkan bahwa kasih tidak pernah kalah. Dan aku? Aku adalah bukti kecil dari kasih itu yang tetap menyala.”
Kristus telah bangkit! Alleluya!
Benar, Dia sungguh bangkit! Alleluya!
Dan mungkin, Ia bangkit... juga di halaman belakang rumahmu.
Cukup nyalakan lilin kecil di hatimu. Maka terang itu akan hidup.
Alleluyaaaa