Loading...
Refleksi Minggu V Prapaskah: Batu di Tangan Maria

Refleksi Minggu V Prapaskah: Batu di Tangan Maria

  • 06 Apr 2025
  • Renungan

Malam itu, kota kecil di pinggir gurun mulai mendingin. Angin berdesir lembut, membawa debu dan sunyi yang khas. Di pojok gang dekat pasar, seorang perempuan muda duduk bersandar pada dinding. Namanya Maria. Pakaiannya lusuh, wajahnya letih, dan matanya kosong. Beberapa jam lalu, ia hampir mati—bukan karena penyakit, tapi karena kebencian.

Ia tertangkap basah, katanya, bersalah karena hubungan terlarang. Warga menyeretnya ke alun-alun, penuh amarah dan tuntutan. Di tengah kerumunan itu, muncullah seorang guru. Bukan sembarang guru—tapi Yesus dari Nazaret. Orang-orang memanggil-Nya “Rabi”, “Guru”, “Mesias”. Tapi yang membuat Maria tak bisa lupa, adalah tatapan-Nya: tidak ada jijik, tidak ada murka, hanya belaskasih.

“Barangsiapa di antara kalian tidak berdosa,” kata-Nya, “hendaklah dia yang pertama melemparkan batu.”

Sunyi. Batu-batu di tangan mulai jatuh satu per satu. Mulai dari yang tertua. Sampai akhirnya, hanya Maria dan Yesus yang tinggal.

“Aku pun tidak menghukum engkau,” kata-Nya pelan, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.”

Itulah yang membuat Maria duduk terpaku sekarang. Kata-kata itu menggema di hatinya seperti mata air di tengah padang gersang. Tapi… ke mana ia harus pergi?

*****

Keesokan paginya, Maria melangkah ke ladang milik seorang janda tua bernama Salome. Ia pernah melihat Maria di pasar dan tahu kabarnya. Namun, alih-alih mengusir, Salome hanya berkata, “Kalau kau butuh kerja dan tempat tidur, mulai sapu halaman.”

Hari-hari berikutnya Maria belajar menanam, memanen, dan merawat ternak. Malam hari, ia mendengar Salome berdoa. Ada damai yang sederhana dalam cara hidup wanita tua itu. “Mengapa engkau menolong aku?” tanya Maria suatu malam.

Salome hanya tersenyum. “Karena aku pun pernah diselamatkan. Dulu aku hampir bunuh diri karena malu dan kehilangan segalanya. Tapi Tuhan mengutus seseorang untuk mengangkatku. Jadi sekarang, giliran aku untuk menjadi tangan-Nya.”

Maria terdiam. Ia belum pernah mendengar tentang Tuhan dengan cara seperti itu—Tuhan yang menyembuhkan, bukan menghukum.

****

Setahun berlalu. Maria sudah tampak berbeda. Ia lebih bersih, lebih kuat. Tapi luka di hatinya belum benar-benar sembuh. Ia masih merasa dirinya tak layak. “Aku ini kotor,” gumamnya sering kali.

Suatu sore, Maria melihat seorang anak laki-laki kecil dipukul karena mencuri roti. Orang-orang mulai berkerumun. “Penjahat kecil! Ayo, beri pelajaran!”

Tanpa pikir panjang, Maria menerobos kerumunan dan berdiri di depan anak itu.

“Berhenti!” teriaknya.

Orang-orang menatapnya bingung. “Kau mau bela pencuri, Maria?”

“Dulu, aku juga berdosa. Tapi seseorang menyelamatkanku dengan belaskasih. Sekarang, aku lakukan yang sama.”

Semua diam.

Maria berlutut dan memeluk si anak. Ia tahu rasanya dijadikan tontonan, dijatuhkan harga dirinya. Tapi ia juga tahu, Tuhan tak pernah berhenti melihat hati manusia.

Anak itu menangis di pelukannya.

****

Malam itu, di bawah langit penuh bintang, Maria duduk di beranda rumah kecilnya. Di tangan kirinya, ia memegang batu kecil yang pernah ia ambil dari tanah—batu yang dulu hampir dilemparkan padanya. Tapi batu itu kini bersih, halus, dan menjadi pengingat.

Bukan pengingat rasa bersalah, tapi pengingat anugerah.

Ia membisikkan doa, “Terima kasih, Tuhan, karena tidak melemparkan batu itu. Terima kasih karena Engkau memilih untuk mengasihi, bukan menghukum. Aku pun mau belajar begitu—mengasihi mereka yang jatuh. Karena hanya belaskasih yang menyelamatkan.”

Dan malam itu, Maria tidur dengan damai. Ia tahu luka-luka hidupnya tidak serta-merta hilang. Tapi ia juga tahu, Tuhan sedang memulihkan. Sedikit demi sedikit, dengan kasih yang lembut dan setia.

Dan Maria pun menjadi saksi dari belaskasih yang mengangkat, menyembuhkan, dan membebaskan.

Sebab yang tersisa dari penghakiman bukanlah kehancuran, tapi dua hal yang akan tinggal selama-lamanya: penderitaan dan belaskasih. Miseria et misericordia.

Cijantung, Maret 2025

Hallo, ada yang bisa dibantu?