Loading...
Rekoleksi DPH Se-KAJ: Meneguhkan Kepedulian bagi yang Lemah dan Miskin

Rekoleksi DPH Se-KAJ: Meneguhkan Kepedulian bagi yang Lemah dan Miskin

  • 15 Feb 2025
  • Berita

Rekoleksi DPH Se-KAJ: Meneguhkan Kepedulian bagi yang Lemah dan Miskin

 

Jakarta, 15 Februari 2025 - Pagi masih gelap ketika rombongan dari Paroki St. Aloysius Gonzaga, Cijantung, berangkat menuju Katedral Jakarta. Hari ini adalah momen istimewa bagi para anggota Dewan Pastoral Harian (DPH) se-Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) yang mengikuti rekoleksi awal tahun.

Dengan semangat kebersamaan, perjalanan sejauh 26 km pun ditempuh tanpa kendala berarti, memungkinkan mereka tiba tepat waktu untuk registrasi pukul 07.00 WIB.

 

Rekoleksi yang berlangsung di Aula Grha Pemuda, lantai 4 Gedung Grha Pemuda ini mengusung tema  “Kepedulian Lebih pada yang Lemah dan Miskin.” Acara ini menjadi momen refleksi dan penyegaran spiritual bagi para peserta dalam menegaskan arah dasar pastoral yang akan dijalankan sepanjang tahun. Selain membahas visi ke depan, rekoleksi ini juga menjadi ajang evaluasi pencapaian serta kesempatan untuk memperbaiki berbagai aspek pelayanan agar semakin mencerminkan iman yang hidup dalam keseharian umat KAJ.

Kegiatan dibuka dengan sambutan hangat dan refleksi mendalam dari Kardinal Ignatius Suharyo. Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa dalam Ajaran Sosial Gereja, martabat manusia adalah nilai tertinggi yang harus dijaga. “Tidak ada yang tidak punya masalah, karena realitas sosial selalu menghadirkan tantangan baru dalam menjaga martabat manusia,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kardinal Suharyo menekankan tiga kata kunci yang menjadi fokus dalam rekoleksi ini: Harapan, Kepedulian, dan Gerakan.

1. Harapan: Harapan dalam ajaran Gereja bukan sekadar optimisme, melainkan keyakinan yang berakar pada iman. Ia mengutip Filipi 1:6, “Ia yang memulai karya yang baik, Ia juga yang akan menyempurnakannya.” Harapan ini menjadi dasar untuk tidak takut dalam menghadapi tantangan pelayanan.

2. Kepedulian: Sebagai orang beriman, kita diajak untuk hidup dalam kepedulian, meneladani Allah yang selalu peduli terhadap umat-Nya. Kepedulian bukan hanya rasa iba, tetapi aksi nyata dalam mengusahakan kesejahteraan bersama, baik bagi sesama maupun alam semesta.

3. Gerakan:Kepedulian yang sejati harus mendorong tindakan nyata. Tahun Yobel ini menjadi momentum untuk membangun gerakan kepedulian yang diawali dengan kembali pada nilai dasar, yakni bermurah hati dan membangun kebersamaan dalam menciptakan kesejahteraan.

Kardinal Suharyo juga menekankan pentingnya “spiritualitas inkarnasi”dalam pelayanan, yakni keberanian keluar dari zona nyaman demi mencari kehendak Allah dalam realitas hidup. “Kita perlu memiliki kegelisahan suci yang melahirkan gerakan konkret. Analisis sosial menjadi alat penting untuk membaca tanda-tanda zaman dan menanggapinya dengan tepat,” pesannya.

Rekoleksi ini dipandu oleh moderator Rm. Yohanes Deodatus, SJ, yang mengarahkan diskusi dan refleksi bersama. Para peserta diharapkan membawa semangat ini kembali ke paroki masing-masing, menghidupi nilai harapan, kepedulian, dan gerakan nyata dalam pelayanan mereka.

Semoga rekoleksi ini menginspirasi setiap anggota DPH untuk semakin giat dalam karya pastoral demi kemajuan iman dan kesejahteraan umat KAJ.

Ditulis oleh Rm. Willy CSsR

Hallo, ada yang bisa dibantu?