Merawat Api Misi yang Diteruskan dengan Cinta dan Pengorbanan
Pada suatu hari yang tenang di tahun 1957, lima misionaris Redemptoris dari Jerman menginjakkan kaki di tanah Sumba. Mereka datang bukan sebagai turis, bukan pula sebagai tamu, tetapi sebagai pewarta Kabar Baik. Inilah titik awal kisah yang menjadi bab penting dalam sejarah Gereja Katolik di Sumba dan Sumbawa.
Namun, kisah ini tidak dimulai dari mereka. Sebelumnya, Serikat Sabda Allah (SVD) telah lebih dahulu hadir dan menaburkan benih iman di Nusa Tenggara, terutama di Flores dan Timor. Namun karena luasnya wilayah misi dan keterbatasan tenaga serta dana, para pimpinan SVD merasa perlu mencari mitra untuk meneruskan pelayanan di daerah yang lebih terpencil—yakni Sumba dan Sumbawa.
Pada tahun 1947, permohonan diajukan kepada Vikaris Apostolik Ende agar dicarikan satu kongregasi religius lain untuk melanjutkan pelayanan. Permintaan itu kemudian sampai ke Roma, dan ditanggapi dengan hangat oleh Kongregasi Redemptoris (C.Ss.R), khususnya Provinsi Köln di Jerman.
Jawaban resmi datang pada 23 Juni 1955, ketika Propaganda Fide di Roma menerbitkan Dekrit Mandatum, yang secara sah menyerahkan wilayah misi Sumba dan Sumbawa kepada para Redemptoris. Sebuah kepercayaan besar yang menjadi tanda dimulainya babak baru misi Gereja lokal di Indonesia bagian timur.
Kedatangan Misionaris Redemptoris
Lima misionaris Redemptoris pertama tiba di pelabuhan Wangapu (Waingapu), Sumba, dengan kapal KPM "Waikelo" pada 16 Januari 1957. Mereka adalah:
- P. Josef Luckas (45)
- P. Georg Kiwus (33)
- P. Mario Stütter (34)
- P. Günter Kellermann (33)
- Br. Clemens (26)
5 Orang Pertama yang Tiba di Sumba
Mereka disambut hangat oleh para pater SVD dan umat setempat—sebuah tanda persaudaraan dan penerimaan dalam kasih Kristus. Disusul kemudian kelompok kedua yang tiba pada 16 Mei 1957, dan beberapa kelompok lainnya di tahun-tahun berikutnya.
Penyerahan Misi yang Penuh Cinta
Yang luar biasa dari proses penyerahan ini adalah semangat pengabdian dan ketulusan hati para misionaris SVD. Mereka tidak hanya menyerahkan tanggung jawab pastoral, tetapi juga seluruh aset misi: tanah, bangunan, sekolah, bengkel, kawanan ternak (termasuk 300 ekor sapi!), dan berbagai peralatan—semuanya diserahkan secara cuma-cuma, tanpa syarat dan tanpa ganti rugi.
Tindakan ini menjadi saksi bahwa para misionaris sejati tidak mencari keuntungan pribadi atau kejayaan serikatnya, tetapi sungguh-sungguh bekerja demi kemuliaan Allah dan pertumbuhan umat-Nya. Sebuah teladan yang patut dikenang dan diwariskan kepada generasi penerus Gereja.
Warisan Iman yang Terus Berkembang
Hari ini, jejak langkah para misionaris Redemptoris masih hidup dan dirasakan. Paroki-paroki di Sumba dan Sumbawa, sekolah-sekolah Katolik, komunitas awam dan religius, serta umat beriman yang teguh—semua adalah buah dari benih yang dulu ditanam dengan cucuran peluh, doa, dan cinta.
Kisah ini bukan hanya tentang masa lalu. Ini adalah cermin panggilan kita hari ini: untuk melayani, memberi diri, dan menjadi saksi Injil dengan semangat yang sama seperti para perintis dahulu.
Mari kita jaga dan teruskan semangat misi ini!
Redemptoris: “Dalam Dia ada Penebusan, berlimpah-limpah”