Loading...
Tuhan Juga Ikut Menonton

Tuhan Juga Ikut Menonton

  • 12 Apr 2025
  • Renungan

Awal bulan April. Hujan masih terus mengguyur di beberapa tempat. Untungnya di tempat kami volumenya sudah berkurang. Tapi entahlah, berita tenang banjir dan tanah longsong masih tetap jadi berita dominan di Tv dan media sosial lainnya.  

“Ini sudah bulan April. Syukur hujan sudah mulai berkurang di sini. Ya… waktunya seharusnya demikian”, ujar Tommy, salah seorang pemain teater Kisah sengsara Yesus tahun ini. 

“Ya. … Benar kawan. Tapi bencana alam karena hujan masih terjadi di sana-sini, gempa bumi dan perang terus jadi berita. Ini seperti dunia kita disalibkan”, kata Andika berefleksi tentang suasana saat ini. 

Pada sore yang teduh itu, di halaman gereja, sekelompok anak-anak Orang Muda Katolik (OMK) tampak sibuk mempersiapkan sebuah panggung sederhana. Kayu-kayu dipasang menjadi salib, kain merah dan ungu digantung sebagai simbol sengsara, dan sebuah kursi sederhana diletakkan di depan panggung sebagai tempat duduk untuk penonton istimewa.  

Malam itu, mereka akan mempersembahkan drama kisah sengsara Yesus. Drama yang bukan hanya untuk memeriahkan pekan suci, tetapi juga sebagai ruang permenungan bersama tentang salib—salib Yesus, salib mereka sendiri, dan salib semua orang yang datang.  

Di antara keramaian persiapan, terlihat seorang pria datang dengan tenang. Pakaiannya sederhana, jubah lusuh warna krem dan sandal kulit yang tampak usang. Rambutnya ikal sebahu, matanya lembut namun memancarkan kedalaman. Tak ada yang benar-benar memperhatikan kehadirannya, kecuali seorang gadis kecil yang berdiri di pinggir panggung.  

"Om, Om cari siapa?" tanya gadis kecil itu.  

Pria itu tersenyum. “Aku ingin menonton drama kalian. Boleh?”  

"Tentu! Duduk saja di kursi itu. Itu tempat tamu istimewa!" seru gadis kecil itu dengan polos.  

Pria itu mengangguk dan duduk di kursi yang disediakan. Sementara itu, para pemain drama mulai berkumpul di belakang panggung. Suara lonceng gereja berdentang, tanda drama segera dimulai.  

 

Babak 1: Yesus Memanggul Salib.

Adegan dimulai dengan Yesus yang diolok-olok dan dipaksa memanggul salib. Aktor yang memerankan Yesus menunduk, menahan beban salib kayu besar yang tampak berat. Sesekali ia terjatuh, wajahnya menunjukkan kepedihan.  

Di barisan penonton, pria berjubah krem itu memperhatikan dengan saksama. Senyumnya samar, namun tatapannya tajam. Di dekatnya, seorang pemuda OMK yang sejak tadi tampak gelisah memperhatikan pria itu.   

"Kenapa ya Om itu seolah-olah begitu paham?" gumam pemuda itu dalam hati.

  

Babak 2: Simon dari Kirene Membantu Yesus.

Di panggung, seorang pemeran Simon dari Kirene dipanggil untuk membantu Yesus. Adegan itu membuat penonton terhenyak. Seorang ibu tua di barisan depan mengusap air mata. Tampaknya ada kenangan pahit yang diungkit oleh pemandangan itu.  

Pria berjubah krem itu sesekali melirik ke arah penonton, memperhatikan ekspresi mereka. Matanya bertemu dengan seorang remaja perempuan yang duduk sambil menunduk. Wajahnya pucat, matanya kosong. Seolah ada beban besar yang dipanggulnya sendiri.  

Saat pandangan mereka bertemu, gadis itu seperti merasakan sesuatu. Ia menatap pria itu, seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi tak ada kata yang terucap.  

 

Babak 3: Veronica Mengusap Wajah Yesus

Adegan ini membuat penonton terdiam. Ketulusan Veronica menyeka keringat dan darah di wajah Yesus terasa begitu nyata. Di antara penonton, seorang pria paruh baya tampak menunduk. Matanya berkaca-kaca. Mungkin ada luka lama yang tersentuh.  

Pria berjubah krem itu menoleh kepadanya, seperti memahami sesuatu. Dalam diam, ia menatap pria itu, seolah-olah mengajak berbagi.  

 

Babak 4: Salib dan Salib-Salib Kita.

Adegan terakhir menggambarkan Yesus yang tergantung di kayu salib. Tubuhnya lelah, kepalanya terkulai. Tetapi para pemain kemudian keluar dari balik panggung sambil membawa salib-salib kecil. Mereka berdiri di samping panggung, menggambarkan bahwa salib Yesus menyatu dengan salib-salib hidup manusia.  

Pria berjubah krem itu berdiri perlahan. Pandangannya menyapu seluruh ruangan. Di matanya, terlihat kepedihan dan cinta yang tak terkatakan.  

Setelah drama usai, orang-orang mulai bubar. Para pemain berkumpul, saling memberi selamat meski ada yang masih terisak. Pria berjubah krem itu masih berdiri di depan panggung, memandang salib besar yang tergantung.  

Seorang pemuda OMK yang penasaran sejak awal mendekatinya. “Om, bagaimana menurut Om drama tadi?”  

Pria itu menoleh dan tersenyum. “Sangat indah. Lebih dari yang kalian bayangkan. Salib itu berat, tetapi kalian semua sudah memikulnya dengan sangat baik.”  

Pemuda itu terdiam. Ada sesuatu yang menyentuh batinnya, seolah kata-kata pria itu lebih dalam dari sekadar pujian biasa.  

"Om, boleh tahu siapa nama Om?" tanyanya dengan ragu.  

Pria itu hanya tersenyum, lalu perlahan melangkah pergi. Gadis kecil yang pertama kali menyapanya tadi berlari menghampiri pemuda itu.  

"Kak, Om itu siapa ya? Aku tadi lihat dia menangis waktu lihat Yesus jatuh."  

Pemuda itu hanya menggeleng, matanya mencari sosok pria itu di antara kerumunan. Namun, pria berjubah krem itu sudah hilang.  

Di depan gereja, tepat di bawah salib besar yang tergantung di menara, pemuda itu melihat selembar kain lusuh tergantung di pagar gereja. Ada bekas noda darah samar di ujungnya. Angin sore berhembus, membawa aroma damai yang sulit dijelaskan.  

Malam itu, ketika mereka semua sudah pulang, salib di panggung masih berdiri. Sunyi dan tegak. Tapi di hati setiap orang yang menonton, salib itu tetap hidup—menjadi bagian dari kisah hidup mereka sendiri, yang disatukan oleh cinta dan pengorbanan Yesus.  

SELESAILAH SUDAH!

Hallo, ada yang bisa dibantu?