DI ANTARA HOSANNA DAN SALIB
Angin siang itu bertiup pelan di halaman gereja tua yang catnya mulai mengelupas.
Daun-daun palma di tangan umat bergoyang kecil, seperti ada sesuatu yang ingin mereka katakan, tapi tak sempat diucapkan.
Saya berdiri di pinggir, tidak terlalu dekat, juga tidak terlalu jauh—seperti biasa, mengambil jarak dari keramaian yang terlalu cepat berubah. Seorang anak kecil di samping saya mengangkat daun palma tinggi-tinggi. Ia berteriak, “Hosanna!” Suaranya bening, tanpa beban. Orang-orang lain ikut menyahut, meski sebagian hanya menggerakkan bibir.
Saya melihat wajah-wajah itu—ada yang bersungguh, ada yang sekadar ikut. Dan entah kenapa, saya teringat sesuatu yang ganjil: betapa cepat manusia berubah. Hari ini mereka bersorak. Tapi saya tahu, dari cerita yang sudah terlalu sering saya dengar, tidak lama lagi suara itu akan berubah.
Dari “Hosanna” menjadi “Salibkan Dia.” Saya duduk di bangku kayu yang sudah retak sedikit di bagian ujungnya. Di depan altar, imam mulai berbicara. Kata-katanya sederhana, tapi seperti mengetuk sesuatu di dalam diri saya yang sudah lama diam. Katanya, hidup ini tidak selalu lurus.
Ada saat kita disambut, ada saat kita ditolak. Ada saat kita merasa dekat dengan Tuhan, ada saat kita seperti berjalan sendirian di jalan panjang yang sunyi. Saya tersenyum kecil. Itu bukan hal baru.
Saya pernah merasa seperti anak kecil tadi—penuh semangat, percaya bahwa hidup akan baik-baik saja. Tapi waktu berjalan, dan saya belajar bahwa hidup punya cara sendiri untuk menguji keyakinan.
Dulu, saya pernah berjanji akan setia. Tapi ada saat-saat saya menyangkal—bukan dengan kata-kata, tapi dengan pilihan-pilihan kecil yang saya buat. Saya tahu mana yang benar, tapi sering memilih yang mudah.
Saya seperti Petrus, kata imam itu. Atau mungkin lebih dekat ke Pilatus—tahu yang benar, tapi tidak cukup berani untuk berdiri di sana.
Angin kembali bertiup. Daun palma di tangan umat berdesir pelan. Saya melihat seorang ibu tua di barisan depan. Ia memejamkan mata, bibirnya bergerak perlahan, seperti sedang berbicara dengan seseorang yang sangat ia kenal. Saya iri sedikit. Imam itu melanjutkan. Pekan ini, katanya, adalah minggu untuk mengingat.
Mengingat bahwa ada kasih yang tidak berhenti di kata-kata. Kasih yang berjalan sampai ujung, sampai pada salib. Saya menunduk. Mengingat bukan hal yang mudah.
Kadang kita lebih suka lupa—terutama pada hal-hal yang menuntut kita untuk berubah. Saya teringat beberapa tahun lalu, ketika hidup terasa lebih ringan. Ada tawa, ada rencana, ada keyakinan bahwa semuanya akan berjalan seperti yang saya inginkan. Tapi hidup, seperti cerita lama yang tak pernah basi, selalu punya cara untuk membelokkan arah. Dan di tikungan itu, saya sering kehilangan arah. “Ini juga minggu ucapan syukur,” kata imam itu lagi.
Saya hampir tertawa kecil. Bersyukur? Untuk apa? Tapi lalu saya sadar, mungkin justru di situlah letaknya. Bersyukur bukan karena semuanya baik, tapi karena di tengah yang tidak baik, kita masih diberi kesempatan untuk berjalan. Saya menarik napas panjang. Udara siang itu terasa hangat.
Di luar gereja, saya tahu jalanan akan tetap sama—berdebu, penuh suara kendaraan, orang-orang berjalan dengan urusan masing-masing. Dunia tidak berubah hanya karena kita memasuki Pekan Suci. Tapi mungkin, yang berubah adalah cara kita melihatnya.
Imam itu berbicara tentang pertobatan. Tentang pulang. Tentang kesempatan yang selalu terbuka, bahkan ketika kita merasa sudah terlalu jauh.
Saya menatap lantai. Ada garis retak yang memanjang, seperti peta jalan yang tak jelas ujungnya. "PULANG". Kata itu sederhana, tapi berat.
Saya tidak tahu kapan terakhir kali saya benar-benar merasa pulang—bukan ke tempat, tapi ke diri sendiri. Ke tempat di mana saya tidak perlu berpura-pura, tidak perlu menjelaskan apa-apa. “Kasihilah satu sama lain,” kata imam itu, suaranya sedikit lebih pelan sekarang. KASIH.
Kata itu terlalu sering dipakai, sampai kadang kehilangan makna. Tapi hari itu, di tengah daun palma yang mulai layu di tangan umat, kata itu terasa lain. Lebih sunyi. Lebih dalam. Kasih yang dimaksud bukan yang mudah. Bukan yang datang saat semuanya baik. Tapi kasih yang tetap tinggal, bahkan ketika tidak ada alasan untuk bertahan. Saya melihat lagi anak kecil tadi.
Daun palmanya sudah agak terkulai. Tapi ia masih memegangnya, seolah itu sesuatu yang berharga. Mungkin memang begitu. Iman, kasih, harapan—semuanya tampak sederhana di awal. Tapi yang menentukan bukan bagaimana kita memulainya, melainkan bagaimana kita menjaganya ketika semuanya mulai berubah.
Perayaan hampir selesai. Orang-orang mulai berdiri. Ada yang tersenyum, ada yang langsung melihat ponsel mereka, ada yang berjalan cepat keluar. Saya tetap duduk sebentar. Di dalam kepala saya, suara “Hosanna” itu masih bergema. Tapi sekarang, ada sesuatu yang lain ikut menyusup—bayangan salib, sunyi, dan berat. Dan entah kenapa, saya merasa, mungkin perjalanan iman memang harus melewati keduanya.
Dari sorak-sorai menuju kesunyian. Dari harapan menuju pengorbanan. Saya akhirnya berdiri. Daun palma di tangan saya sudah mulai kering di ujungnya. Saya memegangnya sebentar, lalu berjalan keluar. Langit siang itu biasa saja. Tidak ada tanda-tanda apa pun yang luar biasa.
Tapi di dalam hati, ada sesuatu yang pelan-pelan bergerak. Mungkin ini awal dari perjalanan yang lain. Dari “Hosanna” yang mudah diucapkan, menuju “Alleluia” yang harus diperjuangkan. Selamat Memasuki Pekan Suci! Cijantung, 29 Maret 2026