PASKAH BERSAMA ANAK-ANAK
YESUS DATANG CARI KITA: CERITA MINGGU CERAH DI CIJANTUNG”
Hari Minggu, 12 April, suasana di Paroki Cijantung terasa beda dari biasanya.
Ini bukan cuma Hari Minggu biasa—ini Hari Minggu Kerahiman Ilahi.
Tapi yang bikin hati makin hangat, hari ini juga jadi hari Paskah bersama anak-anak.
Pagi itu, jam 10.00, matahari bersinar terang sekali. Udara juga enak, tidak panas berlebihan, tidak juga mendung. Cocok sekali untuk anak-anak yang datang dengan wajah ceria, pakai baju bagus, ditemani orang tua mereka. Dari jauh sudah kelihatan: ada yang senyum lebar, ada yang lari-lari kecil, ada juga yang masih pegang tangan mama atau papa. Hari ini mereka bukan cuma datang duduk diam.
Anak-anak ikut ambil bagian. Mereka menyanyi, menari, bahkan memimpin suasana dengan penuh semangat.
Beberapa hari sebelumnya mereka sudah latihan, jadi hari ini seperti hari panen—semua yang mereka siapkan, sekarang mereka tunjukkan dengan penuh sukacita. Dan memang, rasa-rasanya anak-anak itu perlu momen seperti ini.
Momen di mana mereka bisa jadi diri sendiri, bisa tunjukkan iman mereka dengan cara mereka—dengan gerak, dengan lagu, dengan senyum yang jujur dari hati. Dalam homili, pesan yang dibagikan sederhana tapi kena sekali di hati:Yesus selalu datang menemui kita.
Diceritakan bagaimana Yesus yang bangkit itu bukan Yesus yang jauh. Dia dekat. Dia kenal kita satu per satu.
Seperti Maria Magdalena—waktu dia masih sedih dan menangis, Yesus datang dan memanggil namanya.
Dan seketika, hatinya berubah jadi sukacita. Begitu juga kita. Kadang kita sedih, kecewa, atau merasa sendiri… tapi sebenarnya Tuhan tidak pernah jauh. Dia tahu nama kita. Dia panggil kita. Seperti juga dua murid di jalan ke Emaus—waktu mereka lagi kecewa dan bingung, Yesus datang jalan bersama mereka.
Bukan dari jauh, tapi jadi teman seperjalanan. Artinya, dalam hidup ini, walau kita merasa jatuh atau gagal, Tuhan tetap ada di samping kita. Dan Thomas… dia ragu, dia takut, dia belum percaya. Tapi Yesus tidak marah. Yesus justru datang mendekat. Jadi kalau kita kadang ragu, itu bukan akhir.
Yang penting, kita tetap buka hati. Sampai akhirnya kita bisa bilang dengan penuh iman, seperti Thomas:“Ya Tuhanku dan Allahku, aku percaya.” Perayaan Ekaristi hari ini berjalan meriah sekali. Orang tua juga terlibat, bukan cuma duduk, tapi ikut merasakan sukacita anak-anak mereka.
Setelah misa, suasana lanjut di luar—ada games, ada permainan, penuh tawa dan kebersamaan. Tim pendamping anak-anak sudah siapkan semuanya dengan baik.
Hari ini bukan cuma acara. Ini momen. Momen di mana anak-anak merasa: “Ini gereja saya juga.”Dan orang tua pun hadir, mendukung, berjalan bersama. Terima kasih untuk semua—orang tua, para donatur, tim pendamping, dan semua yang sudah ambil bagian. Karena kita semua tahu, anak-anak ini bukan hanya masa depan Gereja…mereka adalah Gereja hari ini.
Kalau kita jalan bersama mereka, setia dampingi mereka, maka pelan-pelan mereka akan temukan arah hidupnya. Pendamping Capek.. Itu cerita Klasik. Capek tapi anak-anak senang dan acara lancar. Rasa itu terbayar. Tdk ada yg sia-sia kan? Terima kasih para kakak pendamping.
Yesus sama-sama dengan kalian. Hari ini, di bawah langit cerah Cijantung, satu hal jadi jelas:Yesus tidak pernah jauh. Dia selalu datang cari kita—termasuk lewat senyum anak-anak kecil itu.
Maju terus Komunitas BIR/BIA Algonz Cijantung
Tuhan memberkati.
Ditulis oleh RP Wilhelmus Ngongo Pala, CSsR.


