Loading...
Sidang FABC ke 12

Sidang FABC ke 12

  • 01 Agu 2026
  • Berita

Jakarta - Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC) telah menggelar Sidang Paripurna ke-12 di Jakarta.

Pertemuan yang dihadiri oleh lebih dari 120 pemimpin Katolik ini menjadi langkah penting bagi pembaruan misi dan sinodalitas Gereja Katolik di seluruh benua Asia. Adapun tema utama yang diangkat dalam sidang kali ini adalah "Konversi Sinodal dan Misi Menjadi Jembatan dan Pembangun Jembatan di Asia".

Uniknya, sebelum memasuki prosesi persidangan, para peserta sidang lebih memilih untuk mengutamakan diskresi spiritual. Mereka berfokus untuk mendengarkan dan merenungkan pesan dari Roh Kudus bagi gereja-gereja di Asia.

Perjalanan sinodal ini dipandu secara langsung oleh Komisi Sinodalitas yang baru saja dibentuk, dengan Kardinal Pablo Virgilio David sebagai ketua dan Pastur Clarence Devadass sebagai sekretaris.

Panggilan Menuju Konversi Sinodal Salah satu sorotan utama dalam sidang ini adalah gagasan tentang konversi sinodal. Para pemimpin gereja mendeskripsikan konsep ini sebagai sebuah pergeseran, baik secara struktural maupun spiritual, dari gaya kepemimpinan atas-bawah menjadi model tanggung jawab bersama.

Menurut Kardinal Ignatius Suharyo, konversi ini bukan sekadar urusan internal gereja, melainkan sebuah panggilan moral yang luas bagi seluruh masyarakat.

Beliau mengidentifikasi lima isu kritis yang sangat mendesak untuk ditangani. Kelima isu tersebut meliputi perlindungan martabat manusia, pengentasan kemiskinan sistemik demi kesejahteraan bersama, pemberantasan korupsi yang kian meluas, pemerataan akses ekonomi dan politik, serta penanganan krisis ekologi.

Terkait dengan pertanyaan mengenai cara Gereja menghapus budaya klerikalisme di ranah internal, para pemimpin kembali menegaskan bahwa sinodalitas berakar pada sakramen pembaptisan.

Sidang ini menyepakati bahwa para pelayan yang ditahbiskan bukanlah umat Kristen kelas atas. Martabat dan kesetaraan yang sesungguhnya berasal dari pembaptisan, sehingga misi Gereja harus dijalankan dengan pendekatan yang kolaboratif dan berjiwa melayani.

Perluasan Misi, Dialog, dan Aksi Iklim Dalam kesempatan ini, para pemimpin FABC juga meluruskan pandangan tentang misi modern Gereja. Kardinal David menjelaskan bahwa tujuan utama Gereja bukan semata-mata mencari lebih banyak pengikut atau melipatgandakan jumlah umat Katolik.

Lebih dari itu, Gereja dipanggil untuk menjadi saksi yang menjunjung tinggi martabat manusia dan senantiasa berjalan berdampingan dengan sesama. Untuk mewujudkan visi tersebut, FABC mengembangkan pendekatan "dialog rangkap tiga" yang sudah ada menjadi empat dimensi.

Keempat dimensi ini mencakup dialog dengan agama-agama, budaya, kaum miskin, dan alam ciptaan. Saat membahas tentang alam ciptaan, krisis iklim ditegaskan sebagai masalah moral yang sangat mendesak.

FABC memaparkan kolaborasi terbaru mereka dengan berbagai keuskupan dari Afrika dan Amerika Latin guna menuntut keadilan iklim. Mereka telah menyusun sebuah dokumen bersama sebagai langkah persiapan menuju COP30 di Belém, Brasil. Dokumen ini bertujuan untuk menyatukan suara negara-negara berkembang di panggung global.

Selain itu, aksi sosial Gereja kini juga semakin berkembang. Gereja tidak lagi hanya membatasi diri pada pemberian bantuan darurat, tetapi mulai berupaya keras untuk mengatasi akar permasalahan struktural yang memicu kemiskinan dan eksklusi sosial-ekonomi.

Menjadi Jembatan di Tengah Kesulitan Sidang paripurna ini juga tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan berat di Asia, seperti masalah polarisasi yang ekstrem dan penganiayaan terhadap minoritas Kristen di negara-negara seperti Pakistan. Kardinal David menyoroti bahwa penganiayaan sering kali berawal dari hilangnya rasa percaya dan masifnya penyebaran informasi yang menyesatkan.

Oleh karena itu, Gereja harus merespons situasi ini dengan kesabaran dan terus membangun niat baik, bukan dengan membalas permusuhan. Di tengah ancaman kekerasan sekalipun, Gereja dituntut untuk terus menyuarakan nilai-nilai perdamaian dan persaudaraan universal.

Merancang Peta Jalan Praktis Agar seluruh hasil diskusi ini dapat diwujudkan dalam tindakan nyata, sidang sedang menyusun sebuah panduan praktis yang disebut vademecum.

Dokumen ini akan menjadi kerangka kerja untuk menerapkan sinodalitas yang disesuaikan dengan konteks budaya Asia, dan akan diterbitkan bersamaan dengan pesan akhir bagi Gereja di benua ini. Sebagai penutup yang sarat akan makna perdamaian dan toleransi antarumat beragama, sidang ini akan diakhiri dengan sebuah kunjungan istimewa.

Para uskup akan berjalan menyusuri Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Katedral Jakarta dengan Masjid Istiqlal. Momen ini menjadi simbol fisik yang sangat kuat dari harapan FABC untuk terus merawat dialog serta perdamaian di seluruh penjuru Asia.

 

Foto & Artikel Liputan: Louis & Riko (Komsos Paroki Cijantung)

Hallo, ada yang bisa dibantu?